Kenapa Banyak Remaja Putri Yang Mengalami Anemia Saat Menstruasi?
16 Sep 2026 10:36 WIB

Kenapa Banyak Remaja Putri Yang Mengalami Anemia Saat Menstruasi?

Kenali 5 faktor yang dapat memengaruhi anemia saat menstruasi pada remaja putri.

Kenapa Banyak Remaja Putri Yang Mengalami Anemia Saat Menstruasi?

Anemia saat menstruasi cukup rentan dialami oleh remaja putri. Saat memasuki masa pubertas, tubuh mengalami pertumbuhan yang cepat. Di saat yang sama, menstruasi setiap bulan membuat kebutuhan zat besi remaja putri meningkat hingga dua kali lipat.

Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin dan sel darah merah berada di bawah nilai normal sesuai kelompok umur dan jenis kelamin. Kondisi ini dapat mengganggu produksi sel darah merah di dalam tubuh.

Asupan zat besi yang kurang dan pola makan yang tidak teratur juga dapat meningkatkan risiko remaja putri terkena anemia. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan belajar.

Lalu, kenapa anemia saat menstruasi cukup sering terjadi pada remaja putri? Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari status gizi hingga aktivitas fisik.

Baca Juga: Ayo Deteksi Kanker Payudara Sejak Dini, Kenali 2 Cara Penting Ini!

Kenapa Remaja Putri Rentan Mengalami Anemia Saat Menstruasi?

Kenapa Banyak Remaja Putri Yang Mengalami Anemia Saat Menstruasi?

Masa remaja merupakan periode ketika tubuh mengalami pertumbuhan yang cukup cepat. Karena itu, tubuh membutuhkan asupan zat gizi yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhan.

Pada remaja putri, kebutuhan tersebut bertambah ketika mulai mengalami menstruasi. Menstruasi yang terjadi setiap bulan membuat kebutuhan zat besi menjadi lebih tinggi.

Jika kebutuhan zat besi tersebut tidak diimbangi dengan asupan yang cukup, risiko anemia saat menstruasi bisa meningkat.

Pola makan yang tidak teratur juga dapat menjadi masalah. Sebagian remaja melewatkan waktu makan atau jarang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi.

Apa Dampak Anemia pada Remaja Putri?

Apa Dampak Anemia pada Remaja Putri?

Anemia dapat menyebabkan sistem imunitas tubuh menurun. Akibatnya, seseorang dapat menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan rasa nyeri.

Kondisi ini juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Salah satu yang cukup penting bagi remaja adalah kemampuan untuk mengikuti kegiatan belajar.

Remaja putri yang mengalami anemia dapat mengalami penurunan konsentrasi belajar. Anemia juga berpotensi menyebabkan penurunan daya ingat dan kemampuan pemecahan masalah yang lebih rendah.

Karena itu, memahami faktor yang dapat menyebabkan anemia saat menstruasi penting agar remaja putri lebih memperhatikan pola makan dan kondisi tubuhnya.

5 Faktor Anemia Saat Menstruasi pada Remaja Putri

Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan terjadinya anemia pada remaja putri selama masa menstruasi.

Berikut lima faktor yang perlu diperhatikan.

1. Status Gizi

5 Faktor Anemia Saat Menstruasi pada Remaja Putri

Status gizi menggambarkan kondisi kesehatan tubuh yang dipengaruhi oleh konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi dari makanan.

Tubuh membutuhkan asupan gizi yang cukup agar berbagai proses di dalam tubuh dapat berjalan dengan baik.

Jika asupan gizi kurang, proses penyerapan dan penggunaan zat gizi juga dapat terganggu. Kondisi ini termasuk memengaruhi jumlah zat besi yang masuk ke dalam tubuh.

Asupan nutrisi yang kurang membuat tubuh mendapatkan zat besi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika kebutuhan tubuh tidak terpenuhi, kondisi tersebut dapat menyebabkan anemia.

Karena itu, status gizi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pada remaja putri yang mengalami anemia saat menstruasi.

2. Pola Makan yang Tidak Teratur

5 Faktor Anemia Saat Menstruasi pada Remaja Putri

Pola makan tidak hanya berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi. Kebiasaan makan, cara makan, dan frekuensi makan juga ikut berpengaruh.

Remaja putri dengan pola makan yang tidak teratur lebih berisiko mengalami kekurangan asupan zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Sebagian remaja putri mungkin memilih untuk mengurangi makan karena takut berat badan bertambah. Keinginan memiliki tubuh yang lebih langsing juga dapat mendorong seseorang menjalani diet yang terlalu ketat.

Jika pola makan tersebut membuat tubuh kekurangan zat gizi, kebutuhan nutrisi sehari-hari menjadi tidak terpenuhi.

Pola makan yang rendah zat besi dan vitamin juga dapat mengganggu proses metabolisme serta penyerapan zat besi di dalam tubuh.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pola makan perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko remaja putri terkena anemia.

3. Asupan Zat Besi yang Kurang

Faktor Anemia Saat Menstruasi pada Remaja Putri

Zat besi menjadi bagian penting dalam pembahasan anemia saat menstruasi pada remaja putri.

Sebagian besar remaja putri mungkin sudah pernah mendapatkan informasi mengenai anemia. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Kurangnya konsumsi zat besi dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya adalah kurangnya pengetahuan, ketersediaan pangan, hingga kebiasaan makan yang kurang tepat.

Sebagian remaja putri juga memiliki kebiasaan tidak sarapan sebelum berangkat sekolah.

Selain itu, makanan yang mengandung zat besi seperti daging, ikan, dan hati juga masih jarang dikonsumsi oleh sebagian remaja.

Jika kebutuhan zat besi tubuh tidak terpenuhi, risiko anemia saat menstruasi dapat meningkat.

Karena itu, kebiasaan makan sehari-hari menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

4. Tingkat Stres

Tingkat Stres

Stres dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk siklus menstruasi.

Saat mengalami stres, tubuh menghasilkan hormon kortisol. Hormon ini berkaitan dengan hipotalamus di otak dan kelenjar pituitari.

Stres juga berhubungan dengan emosi, pola pikir, serta kondisi batin seseorang.

Keluhan stres dapat mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan serta menurunkan kualitas hidup. Produksi hormon kortisol juga memiliki hubungan dengan produksi hormon estrogen pada wanita.

Selain memengaruhi siklus menstruasi, tingkat stres merupakan salah satu faktor psikologis yang dapat memengaruhi peredaran darah dan merangsang munculnya rasa nyeri pada tubuh.

Jika seorang wanita mengalami tingkat stres yang tinggi sekaligus anemia yang membuat sistem imunitas menurun, rasa nyeri saat menstruasi dapat lebih mungkin terjadi.

Karena itu, kondisi stres juga perlu diperhatikan ketika membahas kesehatan remaja putri dan anemia saat menstruasi.

5. Aktivitas Fisik

Faktor Anemia Saat Menstruasi pada Remaja Putri

Aktivitas fisik adalah segala bentuk gerakan yang dilakukan tubuh.

Duduk, menonton televisi, berjalan kaki, dan belajar termasuk aktivitas fisik. Namun, aktivitas yang sangat ringan kurang membantu proses metabolisme dibandingkan aktivitas yang lebih aktif.

Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur, terutama sebelum menstruasi, dapat membantu mencegah nyeri saat menstruasi.

Wanita yang lebih aktif secara fisik juga dapat mengalami penurunan tingkat stres. Aktivitas fisik dapat meningkatkan sirkulasi darah dan hormon endorfin yang berkaitan dengan rasa senang sehingga rasa nyeri haid dapat berkurang.

Meski demikian, aktivitas fisik yang terlalu tinggi juga dapat memengaruhi siklus menstruasi. Pengaruhnya dapat berbeda tergantung jenis dan intensitas latihan yang dilakukan.

Aktivitas fisik berlebihan juga dapat meningkatkan stres, terutama saat menstruasi.

Aktivitas seperti berjalan kaki atau olahraga yang membantu membakar kalori dapat menjadi bentuk aktivitas fisik yang baik.

Sebaliknya, aktivitas dengan beban berat atau dilakukan secara berlebihan setiap hari dapat memberikan dampak buruk berupa kelelahan fisik dan mental.

Karena itu, aktivitas fisik juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kesehatan menstruasi remaja putri.

Hubungan Pola Makan dan Anemia Saat Menstruasi

Hubungan Pola Makan dan Anemia Saat Menstruasi

Dari berbagai faktor tersebut, pola makan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.

Remaja putri sedang berada dalam masa pertumbuhan. Pada saat yang sama, menstruasi membuat kebutuhan zat besi meningkat.

Masalah dapat muncul ketika kebutuhan tersebut tidak diimbangi dengan pola makan yang baik.

Tidak sarapan, menjalani diet terlalu ketat, atau jarang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dapat membuat asupan nutrisi tubuh menjadi kurang.

Kondisi inilah yang dapat meningkatkan risiko anemia saat menstruasi pada remaja putri.

Karena itu, memperhatikan pola makan bukan hanya berkaitan dengan berat badan. Pola makan juga berhubungan dengan kecukupan zat gizi yang dibutuhkan tubuh selama masa pertumbuhan.

Anemia Saat Menstruasi Bisa Mengganggu Aktivitas Remaja Putri

Anemia Saat Menstruasi Bisa Mengganggu Aktivitas Remaja Putri

Sumber: https://jatim.antaranews.com/berita/649693/dinkes-surabaya-gencar-sosialisasi-ttd-di-kalangan-remaja-putri

Anemia tidak hanya berhubungan dengan kondisi darah.

Jika kadar hemoglobin dan sel darah merah berada di bawah nilai normal, kondisi tubuh secara keseluruhan juga dapat ikut terpengaruh.

Pada remaja putri, dampaknya bisa terasa dalam kegiatan sehari-hari.

Penurunan konsentrasi dapat mengganggu proses belajar. Daya ingat dan kemampuan menyelesaikan masalah juga dapat ikut menurun.

Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan menstruasi dan rasa nyeri, aktivitas sehari-hari bisa menjadi semakin terganggu.

Itulah sebabnya anemia saat menstruasi pada remaja putri perlu mendapat perhatian.

Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Remaja Putri?

Ada beberapa faktor yang saling berkaitan dengan terjadinya anemia pada remaja putri.

Status gizi menentukan apakah tubuh mendapatkan dan menggunakan nutrisi dengan cukup. Pola makan juga berpengaruh terhadap jumlah zat gizi yang masuk setiap hari.

Asupan zat besi menjadi faktor penting karena kebutuhan remaja putri meningkat selama masa pertumbuhan dan menstruasi.

Di sisi lain, kondisi psikologis seperti stres serta aktivitas fisik juga memiliki hubungan dengan kesehatan menstruasi.

Karena itu, penyebab anemia saat menstruasi tidak hanya dapat dilihat dari satu faktor saja.

Kebiasaan makan, kondisi tubuh, tingkat stres, hingga aktivitas sehari-hari sama-sama perlu diperhatikan.

Kesimpulan

Anemia saat menstruasi cukup rentan dialami remaja putri karena tubuh sedang mengalami pertumbuhan sekaligus membutuhkan zat besi lebih banyak saat menstruasi.

Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu status gizi, pola makan, asupan zat besi, tingkat stres, dan aktivitas fisik.

Asupan nutrisi yang kurang dapat membuat zat besi yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih sedikit. Pola makan tidak teratur dan kebiasaan melewatkan sarapan juga dapat memengaruhi kecukupan nutrisi sehari-hari.

Selain itu, stres dan aktivitas fisik juga berkaitan dengan kondisi menstruasi dan rasa nyeri yang dialami.

Anemia dapat mengganggu aktivitas sehari-hari remaja putri. Dampaknya termasuk penurunan konsentrasi belajar, daya ingat, dan kemampuan pemecahan masalah.

Karena itu, mengenali berbagai faktor yang berkaitan dengan anemia saat menstruasi menjadi penting agar remaja putri lebih memperhatikan kondisi tubuh dan kebiasaan sehari-harinya.

FAQ tentang Anemia Saat Menstruasi

Apa itu anemia?

Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin dan sel darah merah berada di bawah nilai normal sesuai kelompok umur dan jenis kelamin. Kondisi ini dapat mengganggu produksi sel darah merah di dalam tubuh.

Kenapa remaja putri rentan mengalami anemia saat menstruasi?

Remaja putri sedang mengalami pertumbuhan yang cepat saat memasuki masa pubertas. Menstruasi setiap bulan juga membuat kebutuhan zat besi meningkat hingga dua kali lipat.

Apa saja faktor yang dapat menyebabkan anemia saat menstruasi?

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah status gizi, pola makan, asupan zat besi, tingkat stres, dan aktivitas fisik.

Apakah pola makan dapat memengaruhi anemia pada remaja putri?

Ya. Pola makan yang tidak teratur dan rendah zat besi serta vitamin dapat membuat kebutuhan nutrisi tubuh tidak terpenuhi dan mengganggu penyerapan zat besi.

Apa saja makanan yang mengandung zat besi?

Beberapa makanan yang disebutkan dalam pembahasan ini sebagai sumber zat besi adalah daging, ikan, dan hati.

Apakah stres berkaitan dengan menstruasi?

Stres dapat memengaruhi keteraturan siklus menstruasi karena berkaitan dengan produksi hormon kortisol. Tingkat stres juga dapat berhubungan dengan munculnya rasa nyeri saat menstruasi.

Apakah aktivitas fisik memengaruhi menstruasi?

Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu mengurangi stres dan nyeri menstruasi. Namun, aktivitas fisik yang terlalu tinggi juga dapat memengaruhi siklus menstruasi tergantung jenis dan intensitasnya.

References

Adila, A. M. (2022). Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Teman Sebaya terhadap Upaya Pencegahan Anemia Saat Menstruasi pada Remaja. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 13 (1), 2022: 39–46.

Qomarasari, D. (2022). Hubungan Status Gizi, Pola Makan, dan Siklus Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Kelas VIII di SMPN 3 Cibeber. JIKA, Volume 6, Nomor 2.

Riris Rahmatanti, Siti Fatimah Pradigo, D. R. (2020). Hubungan Tingkat Stres dan Status Anemia dengan Dismenorea Primer pada Siswi Kelas XII di SMAN 1 Nganjuk. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Wanggy, D. M. (2022). Hubungan Antara Status Gizi, Pola Makan, Aktivitas Fisik, dan Stres dengan Gangguan Siklus Menstruasi. Indonesian Journal of Midwifery.

Wijayanti, R. (2022). Aktivitas Fisik dan Kecemasan dengan Gangguan Menstruasi pada Mahasiswi. Jurnal JKFT: Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Oleh: dr. Siti Amalina