Apa Itu Endometriosis? Kenali 9 Gejala, Risiko, Komplikasi, dan Terapinya
20 Sep 2026 21:49 WIB

Apa Itu Endometriosis? Kenali 9 Gejala, Risiko, Komplikasi, dan Terapinya

Kenali endometriosis, mulai dari gejala, faktor risiko, nyeri, komplikasi, terapi, hingga risiko kekambuhan.

Apa Itu Endometriosis? Kenali 9 Gejala, Risiko, Komplikasi, dan Terapinya

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim atau endometrium tumbuh di luar rahim. Kondisi ini umumnya ditemukan pada wanita usia reproduksi, tetapi juga dapat terjadi pada remaja dan wanita pascamenopause meskipun lebih jarang.

Endometriosis termasuk kondisi kronis yang dapat menyebabkan nyeri dan/atau infertilitas. Tingkat keluhan dan beban penyakit yang dirasakan dapat berbeda pada setiap orang.

Penyebab endometriosis sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut antara lain genetik, polutan lingkungan, komponen hormonal, serta disfungsi sistem imun.

Simak Juga: Fakta Nyeri Menstruasi, Kenali Gejala, Penyebab dan Terapi yang Tepat

Klasifikasi Endometriosis

Apa Itu Endometriosis? Kenali 9 Gejala, Risiko, Komplikasi, dan Terapinya

Sumber: https://primayahospital.com/kebidanan-dan-kandungan/endometriosis/

Endometriosis dapat dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan jenis lesi atau lokasi tumbuhnya jaringan. Lokasi ini dapat memengaruhi bagian tubuh yang terdampak.

Berikut tiga tipe endometriosis berdasarkan lokasi terjadinya:

1. Endometriosis Dasar

Endometriosis dasar terjadi pada dinding panggul. Jaringan yang menyerupai lapisan endometrium tumbuh pada area tersebut.

2. Endometriosis Ovarium Kistik

Endometriosis ovarium kistik terjadi di ovarium atau indung telur, yaitu organ reproduksi yang menyimpan sel telur.

3. Endometriosis Dalam

Endometriosis dalam dapat terjadi pada kandung kemih, usus, serta dinding jaringan yang terletak di antara anus dan vagina.

Gejala Endometriosis yang Perlu Dikenali

Gejala endometriosis tidak selalu berhubungan dengan ukuran maupun luas penyebaran penyakit. Keluhan yang dirasakan justru berkaitan dengan kedalaman kista yang terbentuk.

Lesi dengan kedalaman lebih dari 5 mm dapat menimbulkan nyeri sebagai gejala utama. Namun, gejala yang dialami setiap pasien dapat berbeda.

Beberapa gejala endometriosis meliputi:

  1. Nyeri saat menstruasi atau dismenore.
  2. Siklus menstruasi tidak normal.
  3. Infertilitas atau kesulitan mendapatkan kehamilan.
  4. Nyeri saat berhubungan intim.
  5. Nyeri pada panggul.
  6. Nyeri perut.
  7. Gangguan saat buang air kecil maupun buang air besar.
  8. Batuk berdarah.
  9. Perdarahan serta nyeri yang terjadi berulang.

Karena keluhannya dapat berbeda-beda, seseorang dengan endometriosis tidak selalu mengalami seluruh gejala tersebut secara bersamaan.

Faktor Risiko Endometriosis

Ada beberapa kondisi yang berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya endometriosis. Faktor risiko ini dapat berasal dari riwayat menstruasi, usia, berat badan, hingga faktor keluarga.

Beberapa faktor risiko endometriosis antara lain:

  1. Penggunaan alkohol secara berlebihan.
  2. Menarche dini atau mengalami menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun.
  3. Berat badan rendah.
  4. Bertambahnya usia.
  5. Memiliki riwayat keluarga dengan endometriosis.
  6. Aliran menstruasi yang berlangsung lebih dari 7 hari.
  7. Interval siklus menstruasi yang pendek, yaitu kurang dari 27 hari.

Faktor risiko tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami endometriosis. Namun, faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kejadian penyakit ini.

Karakteristik Nyeri pada Endometriosis

Nyeri merupakan salah satu keluhan yang sering dialami pasien dengan endometriosis. Pola nyerinya dapat memiliki karakteristik tertentu, terutama berkaitan dengan menstruasi.

Nyeri menstruasi akibat endometriosis sering kali sudah mulai terasa sebelum menstruasi datang. Rasa sakit tersebut dapat terus berlangsung selama periode menstruasi bahkan bertahan lebih lama.

Nyeri saat berhubungan intim yang berhubungan dengan endometriosis juga biasanya mulai muncul sebelum menstruasi. Keluhan kemudian dapat terasa semakin nyeri ketika memasuki awal periode menstruasi.

Secara umum, gejala yang sering muncul pada pasien endometriosis adalah nyeri dan/atau infertilitas.

Beberapa jenis nyeri yang sering dirasakan antara lain:

  1. Nyeri saat menstruasi.
  2. Nyeri saat berhubungan intim.
  3. Nyeri saat buang air kecil.
  4. Nyeri saat buang air besar.
  5. Nyeri panggul kronis.

Pada beberapa kasus, endometriosis juga dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala sama sekali. Kondisi tersebut baru diketahui ketika pasien menjalani pembedahan.

Komplikasi Endometriosis

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada endometriosis adalah infertilitas. Endometriosis merupakan penyakit sistemik yang kompleks, ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim dan berpotensi memengaruhi sistem reproduksi.

Hubungan langsung antara endometriosis dan terjadinya infertilitas masih menjadi perdebatan. Namun, hubungan antara kedua kondisi tersebut telah diakui dalam dunia medis dan didukung oleh banyak penelitian.

Endometriosis yang sudah menyebar luas dapat menyebabkan perlengketan pada area panggul. Perlengketan juga dapat menutupi bagian belakang rahim sehingga dapat berhubungan dengan terjadinya infertilitas.

Selain itu, endometriosis dapat memengaruhi jumlah sel telur. Kondisi tersebut membuat peluang janin menempel pada rahim menjadi lebih rendah serta dapat memengaruhi keberhasilan kehamilan setelah menjalani In Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung.

Terapi Endometriosis

Pemilihan terapi endometriosis tidak sama untuk setiap pasien. Tingkat keparahan kondisi, sifat dan beratnya keluhan, keinginan untuk hamil, serta usia pasien menjadi beberapa hal yang berperan dalam menentukan metode terapi.

Nyeri panggul yang dialami penderita endometriosis dapat memengaruhi kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, terapi dapat dilakukan melalui pendekatan medis maupun non-medis.

Terapi Medis Endometriosis

Terapi medis merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan untuk membantu mengatasi nyeri akibat endometriosis. Terapi medis dapat berupa obat hormon maupun obat analgesik.

1. Obat Hormon

Progestin merupakan salah satu terapi hormon yang banyak digunakan untuk endometriosis. Progestin dinyatakan sebagai salah satu terapi lini pertama dan memiliki sifat antimitotik terhadap sel endometrium.

2. Obat Analgesik

Analgesik yang umum digunakan untuk nyeri endometriosis adalah obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS.

OAINS banyak digunakan untuk mengatasi rasa nyeri pada endometriosis. Namun, belum terdapat data yang cukup memadai untuk menunjukkan bahwa obat tersebut efektif dalam mengobati rasa nyeri akibat endometriosis.

Terapi Non-Medis Endometriosis

Selain terapi medis, penanganan endometriosis juga dapat dilakukan melalui pembedahan. Berbagai teknik pembedahan telah digunakan dalam penanganan kondisi ini.

Pembedahan

Pembedahan merupakan salah satu terapi non-medis untuk endometriosis. Meski demikian, pendekatan bedah juga tetap memiliki risiko terjadinya kekambuhan.

Pada endometriosis berukuran lebih dari 3 cm, eksisi dinilai lebih unggul dibandingkan ablasi dinding kista dalam hal kekambuhan, baik kekambuhan endometriosis maupun nyeri.

Apakah Endometriosis Bisa Kambuh?

Endometriosis dapat mengalami kekambuhan atau disebut endometriosis rekurens. Kondisi ini ditandai dengan munculnya kembali endometriosis yang dapat diketahui melalui manifestasi nyeri secara klinis maupun pemeriksaan ultrasonografi.

Mekanisme terjadinya endometriosis rekurens kemungkinan berkaitan dengan lesi berulang yang berasal dari lesi sisa. Lesi tersebut dapat muncul kembali melalui perdarahan.

Beberapa peneliti juga mendefinisikan endometriosis rekurens berdasarkan adanya bukti kekambuhan yang ditemukan ketika operasi ulang dilakukan. Hal ini berkaitan dengan penyebab kekambuhan endometriosis yang sampai saat ini tidak pasti.

Beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan kekambuhan endometriosis meliputi:

  1. Usia yang lebih muda.
  2. Memiliki riwayat operasi endometriosis.
  3. Keterlibatan kedua indung telur.
  4. Penyakit sudah berada pada stadium lanjut ketika operasi pertama dilakukan.
  5. Kelengkapan operasi pertama.
  6. Riwayat perawatan medis.
  7. Adanya lesi sisa dari pembedahan awal karena tidak seluruhnya dihilangkan.
  8. Faktor imunologis.

Risiko kekambuhan menjadi salah satu hal penting dalam perjalanan penyakit endometriosis karena kondisi ini bersifat kronis.

Kesembuhan dan Penanganan Jangka Panjang Endometriosis

Pasien dengan endometriosis direkomendasikan menjalani pengobatan secara teratur dan berkepanjangan setelah operasi untuk membantu mencegah terjadinya kekambuhan.

Obat digunakan sampai pasien ingin hamil. Karena itu, endometriosis perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan dalam jangka panjang atau seumur hidup.

Kesimpulan

Endometriosis adalah kondisi kronis ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim. Penyakit ini dapat terjadi di dinding panggul, ovarium, kandung kemih, usus, maupun jaringan antara anus dan vagina.

Gejala endometriosis dapat berupa nyeri menstruasi, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan intim, gangguan buang air kecil atau besar, siklus menstruasi tidak normal, hingga infertilitas. Namun, sebagian pasien juga dapat mengalami endometriosis tanpa gejala.

Terapi endometriosis dapat berupa terapi medis seperti hormon dan analgesik maupun terapi non-medis melalui pembedahan. Pemilihan metode terapi dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit, beratnya keluhan, usia, serta keinginan pasien untuk hamil.

Endometriosis juga memiliki risiko kekambuhan. Karena sifatnya yang kronis, pengobatan secara teratur dan berkepanjangan setelah operasi direkomendasikan untuk membantu mencegah terjadinya kekambuhan.

Kamu PCOS? Jangan Takut! Kenali Gejala, Penyebab, Pencegahan, dan Pengobatannya

FAQ tentang Endometriosis

Apa itu endometriosis?

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim atau endometrium tumbuh di luar rahim. Kondisi ini bersifat kronis dan dapat menyebabkan nyeri dan/atau infertilitas.

Apa gejala utama endometriosis?

Gejalanya dapat berupa nyeri saat menstruasi, nyeri panggul, nyeri perut, nyeri saat berhubungan intim, gangguan buang air kecil atau besar, siklus menstruasi tidak normal, hingga infertilitas. Pada beberapa kasus, endometriosis dapat terjadi tanpa gejala.

Seperti apa nyeri menstruasi akibat endometriosis?

Nyeri menstruasi yang berkaitan dengan endometriosis sering mulai muncul sebelum menstruasi. Rasa nyeri dapat tetap berlangsung selama menstruasi bahkan bertahan lebih lama.

Apakah endometriosis dapat menyebabkan infertilitas?

Infertilitas merupakan salah satu komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien endometriosis. Endometriosis yang sudah menyebar luas dapat menyebabkan perlengketan pada area panggul dan memengaruhi sistem reproduksi, meskipun hubungan langsung antara endometriosis dan infertilitas masih menjadi perdebatan.

Apakah endometriosis bisa kambuh setelah operasi?

Ya. Endometriosis dapat mengalami kekambuhan atau disebut endometriosis rekurens. Beberapa faktor yang berkaitan dengan kekambuhan antara lain usia yang lebih muda, riwayat operasi endometriosis, keterlibatan kedua indung telur, penyakit stadium lanjut, dan adanya lesi yang tersisa setelah pembedahan.

Bagaimana terapi endometriosis?

Terapi endometriosis dapat berupa terapi medis maupun non-medis. Terapi medis mencakup obat hormon seperti progestin dan obat analgesik seperti OAINS, sedangkan terapi non-medis dapat dilakukan melalui pembedahan.

References

Dihade, A. T. (2026). Hubungan Endometriosis dengan Kejadian Infertilitas Wanita di Poliklinik Obsetri dan Ginekologi RSUD Dr. Moewardi. Plexus Medical Journal, 14–19.

Rhomadiyah, V. (2025). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Endometriosis di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2023. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 106–112.

Rusnaidi. (2022). Endometriosis Rekurens. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 358–363.

Wardani, P. K. (2023). Peran Flavonoid terhadap TNF Alpha pada Endometriosis. Jurnal Darma Agung, 241–249.

Baca Artikel Menses Lainnya di Official Website Menses

Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, artikel terkait, dan berbagai edukasi seputar menstruasi serta kesehatan wanita, kunjungi Official Website Menses.

Temukan berbagai informasi menarik dan mudah dipahami melalui:

Yuk, lanjut baca artikel Menses lainnya untuk menambah informasi dan membantu kamu lebih memahami kesehatan tubuh serta siklus menstruasi.