Fakta fakta Bercinta saat Menstruasi
Pahami keamanan, risiko kehamilan, IMS, dan tips menjaga kenyamanan saat berhubungan intim ketika haid.
Kenali jenis, gejala, penyebab, dan terapi nyeri menstruasi atau dismenore agar keluhan saat haid lebih mudah dipahami.
Nyeri menstruasi menjadi salah satu keluhan yang cukup sering dirasakan wanita saat sedang haid. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dismenore.
Rasa sakit biasanya muncul pada bagian bawah perut selama siklus menstruasi. Tingkat nyerinya bisa berbeda pada setiap wanita, mulai dari rasa tidak nyaman hingga nyeri yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain sakit pada bagian bawah perut, nyeri menstruasi juga dapat disertai sakit kepala, kelelahan, mual, bahkan muntah. Karena itu, penting untuk mengenali jenis, gejala, penyebab, hingga terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi dismenore.
Kamu PCOS? Jangan Takut! Kenali Gejala, Penyebab, Pencegahan, dan Pengobatannya
_7.png?1789910106998)
Dismenore adalah istilah medis untuk menggambarkan nyeri menstruasi. Keluhan ini umumnya muncul pada bagian bawah perut ketika seorang wanita mengalami menstruasi.
Nyeri yang muncul dapat menyebabkan tubuh terasa tidak nyaman. Pada beberapa kondisi, dismenore juga dapat disertai sakit kepala, rasa lelah, mual, hingga muntah.
Dismenore memiliki penyebab yang berbeda-beda. Berdasarkan penyebabnya, kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder.
Dismenore yang tidak ditangani juga dapat berkaitan dengan kelainan atau gangguan tertentu yang dapat memicu masalah kesuburan atau infertilitas.
Tidak semua nyeri menstruasi memiliki penyebab yang sama. Untuk memahaminya dengan lebih mudah, dismenore dibedakan menjadi dua kelompok utama.

Sumber: https://melindahospital.com/articles/detail/apakah-moms-tahu-apa-itu-dismenore-primer
Dismenore primer merupakan nyeri menstruasi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan hormonal dan tidak berhubungan dengan adanya kelainan pada organ reproduksi.
Salah satu faktor yang dapat memengaruhinya adalah kondisi kejiwaan atau emosional yang tidak stabil. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan hormon prostaglandin.
Prostaglandin dapat meningkatkan kontraksi otot rahim sekaligus mempersempit pembuluh darah. Kondisi inilah yang dapat menimbulkan rasa sakit atau kram ketika menstruasi berlangsung.

Sumber: https://www.halodoc.com/artikel/3-kondisi-medis-yang-bisa-sebabkan-dismenore-sekunder?
Berbeda dengan dismenore primer, dismenore sekunder dapat muncul karena adanya kelainan kongenital atau kelainan organik.
Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan munculnya dismenore sekunder antara lain:
Karena penyebabnya berbeda, gejala nyeri menstruasi pada dismenore primer dan sekunder juga dapat memiliki karakteristik yang berbeda.
Dismenore primer umumnya menimbulkan nyeri yang berlangsung selama beberapa hari ketika menstruasi.
Beberapa gejala yang dapat ditemukan antara lain:
Gejala dismenore sekunder dapat berbeda dengan dismenore primer. Nyeri yang muncul dapat terasa lebih berat dan berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Beberapa gejalanya meliputi:
Perbedaan karakteristik tersebut dapat membantu memahami apakah nyeri menstruasi yang dialami memiliki pola seperti dismenore primer atau sekunder.
Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan munculnya dismenore. Mulai dari usia pertama kali mengalami menstruasi hingga kondisi gizi seseorang.
Berikut beberapa penyebab dan faktor yang dapat meningkatkan terjadinya nyeri menstruasi.
Menarche adalah menstruasi pertama yang dialami seorang wanita.
Wanita yang mengalami menstruasi pertama pada usia kurang dari 12 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami dismenore primer dibandingkan wanita yang mengalami menarche setelah usia 12 tahun.
Hal tersebut berkaitan dengan paparan prostaglandin yang lebih lama.
Prostaglandin sendiri berperan dalam munculnya rasa nyeri dan kram perut ketika menstruasi.
Siklus menstruasi yang tidak teratur juga dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko dismenore primer.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, wanita yang memiliki siklus menstruasi tidak teratur memiliki risiko 1,57 kali lebih besar mengalami dismenore primer.
Karena itu, kondisi siklus menstruasi menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya nyeri menstruasi.
Kalsium memiliki peran dalam mengatur fungsi saraf dan otot.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi nutrisi dengan 1.000 mg kalsium per hari terbukti dapat mengurangi dismenore.
Kalsium membantu mengatur fungsi saraf serta otot sehingga berperan dalam meredakan rasa nyeri akibat dismenore.
Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin.
Hemoglobin bertugas mengikat oksigen agar dapat diedarkan ke seluruh tubuh.
Jika kadar hemoglobin rendah, jumlah oksigen yang dapat diikat dan diedarkan juga menjadi lebih sedikit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah mengalami penyempitan dan kemudian menimbulkan rasa nyeri.
Kurangnya zat besi karena itu dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan nyeri menstruasi.
Status gizi juga memiliki hubungan dengan terjadinya dismenore primer.
Pasien dengan indeks massa tubuh atau IMT kurang dari 20 menunjukkan peningkatan kejadian dismenore primer.
Status gizi underweight atau berat badan kurang dapat menyebabkan jumlah lemak tubuh menjadi rendah. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi proses ovulasi normal dan siklus menstruasi.
Keadaan ini dapat menyebabkan pelepasan prostaglandin secara berlebihan selama menstruasi.
Prostaglandin berfungsi merangsang otot rahim untuk berkontraksi sehingga darah menstruasi dapat dikeluarkan. Jika kontraksi meningkat, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa nyeri ketika menstruasi.
Riwayat keluarga juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan dismenore primer.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan dismenore lebih rentan mengalami nyeri menstruasi primer.
Artinya, riwayat dismenore dalam keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Nyeri menstruasi atau dismenore dapat diatasi melalui dua pendekatan, yaitu terapi farmakologi dan terapi non-farmakologi.
Terapi farmakologi menggunakan obat atau terapi hormonal. Sementara itu, terapi non-farmakologi dilakukan melalui cara seperti kompres dan olahraga.
Berikut beberapa terapi farmakologi yang dapat digunakan untuk dismenore.
Obat analgesik digunakan untuk membantu mengurangi rasa sakit akibat nyeri menstruasi.
Salah satu obat yang biasanya diberikan adalah parasetamol dengan batas tertentu sesuai dosis yang diperlukan.
Meskipun demikian, obat antinyeri yang lebih efektif untuk mengatasi dismenore adalah obat antiinflamasi non-steroid.
Obat antiinflamasi non-steroid atau OAINS, seperti ibuprofen, dapat dipilih sebagai salah satu terapi farmakologi untuk dismenore.
OAINS bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin. Dengan menurunnya produksi prostaglandin, kontraksi pada rahim dapat berkurang sehingga rasa nyeri juga dapat mereda.
Namun, penggunaannya tetap perlu diawasi.
OAINS dapat menyebabkan iritasi pada lambung. Penggunaannya juga dapat menjadi masalah serius karena dapat memperburuk kondisi asma.
Terapi hormonal juga dapat digunakan untuk mengatasi dismenore.
Pada kondisi tertentu, terapi hormonal biasanya digunakan bersamaan dengan OAINS.
Selain penggunaan obat, terdapat beberapa terapi non-farmakologi yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi dismenore.
Kompres hangat menjadi salah satu pendekatan non-farmakologi yang dapat membantu mengurangi nyeri menstruasi.
Panas dari kain hangat yang ditempatkan pada bagian perut dapat membantu melancarkan sirkulasi darah. Panas tersebut juga membantu menurunkan ketegangan pada otot sehingga rasa nyeri dapat berkurang.
Selain kompres hangat, kompres dingin juga dapat digunakan.
Kompres dingin dilakukan menggunakan suhu sekitar 10–15 derajat Celsius selama kurang lebih 15 menit pada kulit bagian bawah perut.
Rasa dingin dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengurangi aliran darah. Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi rasa nyeri akibat dismenore.
Olahraga atau latihan juga menjadi salah satu teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk menurunkan intensitas nyeri menstruasi.
Saat berolahraga, tubuh menghasilkan hormon endorfin yang berasal dari otak dan sumsum tulang belakang.
Karena itu, aktivitas olahraga dapat menjadi salah satu terapi non-farmakologi dalam membantu mengurangi intensitas dismenore.
Nyeri menstruasi atau dismenore merupakan keluhan yang sering dialami wanita ketika sedang menstruasi. Rasa sakit biasanya muncul pada bagian bawah perut dan dapat disertai sakit kepala, rasa lelah, mual, hingga muntah.
Berdasarkan penyebabnya, dismenore dibagi menjadi dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer berkaitan dengan faktor hormonal tanpa adanya kelainan pada organ reproduksi, sedangkan dismenore sekunder dapat berkaitan dengan kondisi seperti endometriosis, mioma uteri, penyempitan leher rahim, dan malposisi rahim.
Beberapa faktor juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya nyeri menstruasi. Di antaranya adalah usia menarche, siklus menstruasi tidak teratur, kekurangan kalsium, kurangnya zat besi, status gizi kurang, serta riwayat keluarga.
Untuk mengatasi dismenore, terapi dapat dilakukan melalui pendekatan farmakologi maupun non-farmakologi. Terapi farmakologi mencakup analgesik, OAINS, dan terapi hormonal. Sementara itu, terapi non-farmakologi dapat dilakukan melalui kompres hangat atau dingin serta olahraga.
Nyeri menstruasi dalam istilah medis disebut dismenore. Rasa sakit biasanya muncul pada bagian bawah perut ketika menstruasi dan dapat disertai keluhan seperti sakit kepala, kelelahan, mual, atau muntah.
Dismenore primer berkaitan dengan ketidakseimbangan hormonal dan tidak berhubungan dengan kelainan organ reproduksi. Sementara itu, dismenore sekunder dapat terjadi karena kelainan kongenital atau kelainan organik seperti endometriosis, mioma uteri, penyempitan leher rahim, hingga malposisi rahim.
Nyeri pada dismenore primer dapat berlangsung sekitar 2–3 hari selama menstruasi. Rasa sakit biasanya datang dan pergi serta tidak menetap.
Ya. Berdasarkan penelitian sebelumnya, wanita dengan siklus menstruasi tidak teratur memiliki risiko 1,57 kali lebih besar mengalami dismenore primer.
Kalsium berperan dalam mengatur fungsi saraf dan otot. Penelitian sebelumnya menunjukkan terapi nutrisi dengan 1.000 mg kalsium per hari terbukti dapat mengurangi dismenore.
Terapi dismenore dibagi menjadi terapi farmakologi dan non-farmakologi. Terapi farmakologi meliputi analgesik, OAINS, dan terapi hormonal. Sementara itu, terapi non-farmakologi dapat berupa kompres hangat atau dingin serta olahraga.
OAINS seperti ibuprofen dapat menghambat produksi prostaglandin. Hal tersebut membantu meredakan kontraksi rahim dan mengurangi rasa nyeri.
Amilsyah, M. N. (2023). Pengaruh Abdominal Stretching Exercise terhadap Nyeri Haid (Dismenore) pada Siswi Putri SMPN 1 Tanjung Palas Barat Kabupaten Bulungan Tahun 2023. Aspiration of Health Journal, 554–562.
Febriyeni. (2026). Deteksi Penyakit Endometriosis pada Masa Reproduksi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius, 1–9.
Munir, R. (2024). Analisa Faktor yang Mempengaruhi Nyeri Haid (Dismenorhea) pada Mahasiswa Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor. Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 62–70.
Permata, B. C. (2023). Pengetahuan Sikap dan Perilaku Remaja Putri Terhadap Towards Self-Medication of Menstrual Pain (Dysmenorrhore) in SMA Negeri 3 Cilegon City, Banten Province. Usadha: Journal of Pharmacy, 291–315.
Sumiyati. (2023). Pengaruh Senam Dismenore dalam Mengurangi Nyeri Haid pada Remaja Putri: Systematic Literature Review. MANUJU: Malahayati Nursing Journal, 218–231.
Wildayani, D. (2023). Hubungan Asupan Zat Besi dan Kalsium dengan Kejadian Dismenore pada Remaja Putri. JOMIS: Journal of Midwifery Science, 138–147.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, artikel terkait, dan berbagai edukasi seputar menstruasi serta kesehatan wanita, kunjungi Official Website Menses.
Temukan berbagai informasi menarik dan mudah dipahami melalui:
Yuk, lanjut baca artikel Menses lainnya untuk menambah informasi dan membantu kamu lebih memahami kesehatan tubuh serta siklus menstruasi.
Menstruasi
Pahami keamanan, risiko kehamilan, IMS, dan tips menjaga kenyamanan saat berhubungan intim ketika haid.
Menstruasi
Payudara nyeri menjelang haid? Kenali penyebab, cara mengatasinya, dan tanda yang perlu diwaspadai.
Menstruasi
Sembelit menjelang haid bisa dipengaruhi hormon dan kebiasaan sehari-hari.
Menstruasi
Diare sebelum haid bisa terjadi akibat perubahan hormon dan prostaglandin yang memengaruhi gerakan usus.
Menstruasi
Jangan mudah percaya mitos soal haid. Kenali fakta menstruasi yang sebenarnya.